Showing posts with label Feature. Show all posts
Showing posts with label Feature. Show all posts

Monday, 3 June 2013

Menikmati Kampung Adat Ciptagelar



Matahari memancarkan sinarnya begitu terik, sinarnya begitu menyengat tubuh dan mata. Menelusuri jalan untuk sampai ke Kampung Adat Ciptagelar, membuat anggota tubuh lelah. Karena untuk sampai pada tujuan, harus menempuh perjalanan kurang lebih 8 hingga 9 jam dari Bandung. Bayangkan saja, lelah bukan?

Ya kampung adat ciptagelar terletak di desa sirnaresmi, Cisolok Kab. Sukabumi. Untuk sampai kesana, bus yang saya tumpangi bersama kawan-kawan berangkat dari Bandung pukul 2 pagi dan sampai ditempat tujuan pukul 11 pagi. Perjalanan dimulai dari bus melewati kota Cianjur kemudian Sukabumi hingga sampai ke Pelabuhan Ratu. Belumlah sampai, bus yang saya tumpangi harus melakukan perjalanan lagi hingga sampai kesana. Ya kira-kira 3-4 jam. Jalan yang anda tempuh ini adalah jalur paling terdekat sekalipun harus menempuh aneka rintangan, seperti tanjakan dan turunan curam.

Jalan yang berkelok-kelok cukup membuat pusing dan mual, tapi itu semua terobati oleh pemandangan alam yang disuguhkan. Di kiri kanan jalan terlihat hamparan pohon yang menghijau menutupi area perbukitan yang terhampar sejauh mata memandang. Hutan, pegunungan, kebun teh dll membuat mata tak bisa berpaling. Apalagi ketika sampai di Pelabuhan Ratu, anda akan disuguhkan oleh pantai yang indah membentang luas dan deburan ombak saling kejar menampilkan buih putih menuju pantai yang memikat hati.

Ketika anda memasuki kawasan Cisolok yang akan menuju ke kampung tersebut, disepanjang jalan anda juga akan menemukan hamparan tanaman padi dan jagung pun seakan siap memberikan keindahan bagi Anda. Dan ketika sampai di desa sirnaresmi, yang akan anda nikmati adalah jalanan yang terjal dan berbatu licin yang membuat adrenalin anda naik. Karena hujan mengguyur membasahi jalanan berbatu sehingga membuat licin. Saya terpaksa berjalan kaki bersama kawan-kawan untuk sampai di kampung Ciptagelar karena bus yang kami tumpangi, tak bisa masuk. Untuk pejalan kaki membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit untuk sampai di gerbang kampung adat Ciptagelar, dan untuk kendaraan membutuhkan waktu kurang lebih 5 menit.

Ketika saya sampai di gerbang kampung tersebut, saya bersama teman-teman disambut hangat oleh sebagian masyarakat yang tinggal disana. Sambutan hangat itu membuat kami betah berlama-lama disana. iringan musik dan tarian dari sebagian masyarakat sangatlah membuat hati tersentuh dan membuat takjub, dan begitu ramahnya mereka menyambut kami.

Suasana pedesaan yang penuh dengan kebudayaan sunda, sudah bisa saya rasakan ketika saya masuk ke kampung tersebut. Mata tertuju pada bangunan rumah yang masih sangat tradisional yang terbuat dari bambu, kayu, pohon kelapa, Ijuk (sebagai atap) dan lain-lain. Rumahnya dibangun dengan konsep panggung. Dan terdapatnya  Imah Gede (Rumah Besar), yang juga merupakan tempat tinggal Pupuhu Adat dan keluarganya, sekaligus menjadi pusat  dari semua acara-acara komunal Kasepuhan, aktivitas sehari-hari masyarakat Kasepuhan.

Unik,, ya memang unik kampung ini, selain masih mempertahankan budaya sunda tak lain adalah budaya mereka sendiri, kampung tersebut sangatlah membuka diri terhadap orang luar. Ini terbukti dengan banyaknya kunjungan dan kerjasama antara pemerintah dengan warga desa tersebut. Penyuluhan yang dilakukan oleh pemerintah pun kerap digalakkan untuk mengembangkan di berbagai sektor khususnya sektor pertanian yang dinilai sangat maju. Sehingga masyarakat dan Kepala suku pun terbuka terhadap program-program pemerintah selama tidak mengganggu adat istiadat.

Kampung ini terbuka dengan siapa saja yang mau berkunjung ke kampung tersebut, karena sistem paguyuban menjadi sistem kekerabatan masyarakat. Mereka menggunakan sistem komunikasi dua tahap yakni melalui opinion leader dan dilain pihak mereka memperoleh informasi melalui media massa seperti televisi dan radio, Hp dan Internet sudah digunakan sebagian masyarakat, termasuk kepala suku. Jadi tak perlu cemas bila anda ingin berkunjung ke kampung ini.

Kampung adat Ciptagelar ini adalah kampung yang masih kental dengan adat istiadatanya. Salah satunya adalah, masyarakat kampung tersebut menganggap bahwa “jika kita makan, maka nasi yang kita makan tak boleh ada yang tersisa, karena nasi menurut mereka adalah Dewi Padi. Padi menempati makna penting bagi masyarakat kampung tersebut. Hasil bumi yang sangat diagungkan, menjadi culture interest dari semua sistem nilai, norma dan aktivitas sehari-hari masyarakat Kasepuhan. Sebuah simbol kehidupan dan kesuburan yang memerlukan sekian bentuk dan tahapan ritual penghormatan, dari saat menanam hingga hingga panen. Padi disamakan seperti juga makhluk hidup dan selayaknya diperlakukan sama dengan manusia.

Di kampung tersebut pula, kami menemukan bangunan kecil yang tak lain adalah Leuit. Leuit adalah rumah padi, bangunan panggung berbentuk segi lima. Hampir setiap rumah memiliki leuit untuk menyimpan padi hasil panen. Terdapat dua macam peruntukan leuit. Leuit Si Jimat merupakan hak milik Abah, sedangkan Leuit Adat Kasepuhan diperuntukkan untuk incu putu (keturunan atau warga kasepuhan). Warga menyisihkan dua pocongan dari hasil panen untuk disimpan di Leuit Adat Kasepuhan. Leuit merupakan cara mengatur kesediaan bahan pangan dari masyarakat Kasepuhan yang berada di tengah gunung.

Kemudian adat istiadat yang bisa ditemui di kampung ini adalah Ritual Seren Taun (panen raya) yang dimana merupakan puncak dari pembudidayan padi masyarakat yang ditandai dengan Upacara Ngadiukeun, atau memasukkan dan mendudukkan ikat padi secara simbolik ke lumbung keramat Leuit si Jimat. Masing – masing keluarga menyimpan satu pocongan padi ke dalam leuit si Jimat. Prosesi ini dimulai melalui pembacaan doa dan mantra melalui pantun seloka yang pada intinya mensyukuri atas restu alam semesta dan leluhur. Praktiknya, Seren Taun merupakan upacara penyerahan hasil bumi berupa padi yang dihasilkan dalam kurun waktu satu tahun untuk disimpan ke dalam leuit. Upacara ini berawal dari pemuliaan terhadap Nyi Pohaci Sanghyang Sri, Dewi Padi dalam kepercayaan Sunda kuno. Bagi masyarakat Kasepuhan, upacara Seren Taun bukan sekadar tontonan, melainkan juga tuntunan.

Hal unik lainnya ketika mereka melakukan upacara kematian, yang dimana tradisi pada orang yang meninggal dilaksanakan lebih apik dan rapi diaman keranda mayat hanya digunakan sekali saja oleh orang yang meninggal, kemudian ditinggalkan di makam orang yang meninggal tersebut. Keranda tersebut dibuat dari bambu. Masyarakat menganggap keranda merupakan kendaraan terakhir seseorang, jadi hanya diperbolehkan digunakan sekali saja. Dan sama seperti umumnya, dilaksanakan juga Tiluna, Opatna, limana, Tujuhna dan seterusnya.

Nah, anda juga bisa berkeliling di kampung ini untuk menyaksikan dan merasakan bagaimana kehidupan masyarakat adat Kampung tersebut. Namun yang pasti Anda jangan coba-coba berlaku kurang ajar atau di luar norma masyarakat Kampung Adat.

Anda tertarik? Silahkan datang ke Kampung Ciptagelar. Karena saya pun masih tertarik untuk mengunjungi kampung tersebut. Karena anda akan mendapatkan pengalaman yang luar biasa yang tak akan anda bisa lupakan, seperti saya yang sudah mengunjungi kampung tersebut.



*salah satu kesenian tradisional kampung Ciptagelar


*mesjid di kampung Ciptagelar

*Leuit (rumah padi)


Baca SelengkapnyaMenikmati Kampung Adat Ciptagelar

Monday, 20 May 2013

Nike Ardila, ramah, berbakat dan sering berbagi.

"Dunia ini panggung sandiwara...” ini adalah sepenggal lagu dari salah satu puluhan lagu hits dari Nike Ardila, mojang yang lahir di Bandung ini empunyai nama lengkap Nike Ratnadila Kusnadi yang dikenal juga sebagai seorang anak yang berkat dan mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Nike Ardilla terlahir dengan nama Rd.Rara Nike Ratnadilla. Rd.Rara adalah sebuah julukan kebangsawanan untuk seorang putri keturunan ningrat di Jawa Barat, Nike sendiri masih keturunan Raja Galuh. Adapun nama Nike Ratnadilla,berasal dari Ni,diambil dari suku kata nama depan mami,yaitu Ningsirat Dan Ke,diambil dari suku kata bagian depan nama papi,yaitu Kusnadi (Ku dirubah jadi Ke). Rat, diambil dari Ningsirat,Nadi diambil dari Kusnadi,dan ditambahkan lla,jadilah nama Nike Ratnadilla.  Dari kecil nike adalah seorang sosok yang pandai menyanyi dan juga mendapat banyak berbagai penghargaan. Sosok yang dikenal oleh para fans nya adalah yang bersahaja.

Nike yang dikenal sebagai seorang artis besar tapi teryata memiliki jiwa sosial yang tinggi, ia tak pernah lupa bahwa dia harus berbagi dengan seama yang saling membutuhkan, tak terkecuali teman-teman sedekatnya. Di awal kariernya, Nike menggunakan nama Nike Astrina dan sempat mengeluarkan single album berjudul “Gadis Foto Model”, yang merupakan sountracknya juga film tersebut. Tahun 1990-an, Nike atas permintaan produser, Nike merubah namanya menjadi Nike Ardilla yang diambil dari nama belakangnya. Dengan nama Nike Ardilla yang disandangnya, Nike berhasil menaklukan dunia hiburan di Indonesia. Nike juga memiliki nama kecil, yaitu Keke, Neng, atau Amoy. Keluarga besar Nike, biasa memanggil dengan sebutan “Neng” dan Nikemania biasa memanggilnya dengan sebutan “Teteh” (panggilan hormat untuk seorang wanita, biasanya wanita yg lebih tua di daerah sunda).

Sejarah yang berjalan di Gedung yang bernamakan Museum Nike Ardila, gedung ini berdiri atas prakarsa Fan's Nike Ardilla yang tergabung dalam NAFC ( Nike Ardilla Fan's Club ) mengajukan permohonan kepada Keluarga Nike Ardilla untuk dibuatkan sebuah Ruangan yang menampilkan Barang barang milik Alm Nike Ardilla yang akhirnya diresmikan pada 27 Desember 1996 bersamaan dengan peluncuran buku Biografi Nike Ardilla Gedung ini beralamatkan di komplek Arya graha, jl Arya Utama No.5 Bandung. Nike Ardilla, Artis dan penyanyi wanita berbakat yang teropuler di jamannya. Lima tahun berkiprah di industri musik, Nike berhasil mengeluarkan 13 album. Tak hanya itu, Nike pun telah membintangi 12 film layar lebar dan 9 judul sinetron. Pada saat itu NAFC meminta keluarga untuk membuka sebuah museum agar dapat mengenang kepergian Nike. Dimana museum itu diresmikan tanggal 27 desember 1996. Kediaman Nike sendiri di Ciamis dan dikuburkan pula di Ciamis. Begitupun orang tua dan keluarganya mereka tinggal di Ciamis. Museum itu bertipe semi modern. Dimana di dalam museum itu terdapat kamar yang bentuk dan replica barang itu semua asli, yakni di ambil dan didesain seperti kamar Nike ardila yang asli.

Pengelola museum itu sendiri adalah kaka iparnya. Dan ditemani beberapa fans nike yakni okeu dan siti. Nike ardila memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi. Ia pernah membantu yatim piatu. Bukan hanya yatim piatu atau agama islam saja, bahkan orang-orang yang berbeda agama pun dia kerap ikut menyumbang. Ia pun sempat mendirikan SLB Yayasan Wawasan Nusantara yang beralamat di pamongkalan Bandung. dan di bawah museum itu didirikan pula Paud Sedap Malam. Dia dikenal sangat baik pada teman-temannya, pernah diceritakan bahwa suatu ia berkunjung ke suatu tempat perbelanjaan di Jakarta bersama teman-temannya. Ia lebih mendahulukan teman-temannya utk membeli barang-barang yang diinginkannya ketibang dia. Ia memiliki jiwa sosial yang tinggi. suatu ketika ia sedng mengendarai mobil bersama fans-fansnya, dan dia melihat seorang pengemis, kemudian ia menghentikan kendaraan yang dikendarainya dan memberi sumbangan untuk pengemis itu. Kesolidderitasannya pun cukup tinggi. dikala teman-temannya sedang duka ataupun suka ia selalu ada di sampingnya. Karna moto hidup seorang nike ardila adalah hidup senang, tenang dan masuk surga. Maka dari itu selama hidupnya Nike dikenal sebagai sosok yang selalu memberi kepada yang membutuhkan, dia tak pernah lupa dan selalu berbagi sampai akhir hayat, semuanya selalu dikenang dan memberikan pelajaran bagi fans setianya dan orang-orang yang mengenalnya.
 
Ia pun dikenal dengan orang yang bertipe sederhana. Kalo artis-artis jaman dulu, kamar dan ruangannya mewah, akan tetapi ia lebih sederhana, tempat tidurnya pun bukan tempat tidur berkaki, tetapi tempat tidur lipat (Ngampar).  Tempat liburan faforitnya di Ciamis. Ia gemar mengkoleksi sepatu dan boneka-beneka.  Prestasinya diwali saat ia duduk di bangku SD kelas 5, ia pernah mengikuti berbagai lomba, dan ia selalu juara 1. Bahkan sampai ia terpilih menjadi penyanyi ia masih memperoleh juara 2 atau 1. Bakat yang paling menonjolnya adalah menyanyi. Ia pernah kontes ke luar negeri, Malay, Australia, sampai negara-negara di Eropa. Jenis lagunya, lagu pop. Ia memiliki seorang idola yang berna Marylin Monroe, dikamarnya terdapat banyak lukisan maupun foto dia, dan beberapa barangnya juga banyak yang berkaitan dengan Marylin Monroe, dia begitu sangat mengidolakannya sampai gaya-gayanya pun diikutinya. Harapan menurut fans ini agar kenangan bagi nike ardila tidak pernah hilang, mengharapkan banyak pengunjung yang datang dan mengenal lebih dekat dengan nike ardila dan fans clubnya.


Baca SelengkapnyaNike Ardila, ramah, berbakat dan sering berbagi.

“Robot Silver” Ala Kota Bandung

“Cleng”. Itulah bunyi uang receh masuk kedalam kardus yang dibawa oleh robot silver. Detik, menit, bahkan jam pengemudi Kota Bandung memasukan uang ke kotak sumbangan yang berlebel “Peduli Yatim Piatu”.

Matahari memancarkan sinarnya begitu terik, sinarnya begitu menyengat tubuh dan mata. Sabtu (9/3) siang itu, terlihat jalanan cukup ramai. Jalanan semakin padat ketika lampu merah menyala. Kendaraan yang lalu - lalang dari arah Jalan Turangga menuju Jalan Gatot Subroto lalu berhenti. Dari kejauhan terlihat sesosok tubuh berwarna silver berdiri di perempatan lampu merah. Sosok tubuh itu rupanya berjalan menghampiri setiap kendaraan yang berhenti.

Ya, sosok tubuh itu tak lain dari manusia yang mewarnai tubuhnya dengan cat bewarna silver. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dicat, hanya mata saja yang tersisa berwarna hitam. Tak ketinggalan baju, topi atau aksesoris yang dipakai robot silver itu pun dicat dengan warna silver. Tubuhnya yang kurus bertelanjang dada, ada juga yang memakai celana pendek, memakai alas kaki dan hebatnya lagi ada yang tidak memakai alas kaki. Mereka kuat menahan terik matahari dan aspal jalanan. Hingga manusia bak robot yang berjalan itu membuat perhatian sebagian orang yang belum pernah melihatnya.

Uniknya, manusia silver itu tidak sendiri, melainkan banyak. Ada tiga sampai empat sosok yang berdiri. Mereka terlihat membawa sebuah kotak yang tak lain itu adalah seperti kardus bekas yang bertuliskan “Peduli Yatim Piatu ?”. Tak ketinggalan kotaknya pun dicat dengan warna silver seperti tubuhnya.

Lampu merah pun menyala, saatnya mereka beraksi menuju kendaraan yang sedang berhenti seketika. Dengan gaya kedua tangan di depan yang menyerupai robot sedang berjalan, mereka meminta sumbangan. Kemudian robot silver itu menghampiri menyodorkan kardus, dan pengendara memasukan uang tanpa ragu-ragu. Dari receh hingga uang kertas, masuk kedalam kardus tersebut. Tak sungkan para robot silver itu pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada pengendara.

Tanpa mengenal lelah dan panas para robot silver itu tetap menjalankan tugasnya. Semangatnya yang begitu besar, itu terbukti ketika mereka terus menghampiri kesetiap pengendara yang berhenti. Ketika salah satu robot silver itu merasa lelah, ia akan meneduh untuk beristirahat sejenak untuk meminum air untuk menghilangkan dahaga. Selang beberapa menit, kemudian ia kembali untuk bertugas mencari sumbangan. Itu dilakukan secara bergantian dengan robot silver yang lainnya.

Robot silver ala kota bandung ini ternyata bukan hanya sekedar mata pencaharian, melainkan mereka adalah sebuah komunitas. Dimana komunitas ini dinamakan “Komunitas Silver Peduli”.
Komunitas ini sudah lama adanya. Para  Robot Silver itu melakukan aksinya setiap hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu dan Minggu. Hanya saja jumat adalah hari libur untuk mereka yang menjadi manusia silver.

Aksi para robot silver itu bukan hanya terdapat di kawasan perempatan Buah Batu, melainkan di Gatot Subroto, Cihampelas, Dago dll dimana sudah tersebar di kota Bandung. Kawasan perempatan Buah Batu inilah adalah pusat pembagian dari manusia silver itu sendiri. Pembagian wilayah dan jumlah manusia silver dilakukan setiap tanggal 25 setiap bulannya.

Saat diketemui dilapangansalah seorang dari manusia silver itu bernama Iwan, yang sedang beraksi di kawasan Gatot Subroto bersama rekan-rekan manusia silver lainnya dengan penuh semangat dibawah terik sinar matahari yang mulai menghinggapi tubuh silver mereka.

Semua yang mereka perbuat adalah semata-mata untuk membantu saudara-saudara anak yatim piatu, dan dari semua itu apa yang mereka dapatkan maka akan dikumpulkan untuk dibagikan kepada saudara-saudara yatim piatu yang membutuhkan. Menurut penuturan Iwan bahwa setiap tanggal 25 semua anggota manusia silver yang anggotanya berjumlah kurang lebih 60 orang  berkumpul di perempatan jalan buahbatu dengan para kordinatornya, tak ayal ketuanya pun akan ikut hadir dalam pertemuan bulanan tersebut.
Baca Selengkapnya“Robot Silver” Ala Kota Bandung