Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Monday, 3 June 2013

Fenomena Perempuan dan Media

Seperti hal nya Ibu kita Kartini, yang menjadi inspirator bagi kaum perempuan, dimana perempuan tak lagi berdiam diri dan diperlakukan budak oleh kaum pria. Paradigma dulu sudah sangat melekat dalam pikiran kaum perempuan bahwa ruang gerak mereka hanya terbatas pada dapur, mengurusi pekerjaan rumah dan berdiam diri, kini sudah mulai luntur dari zaman ke zaman. Terutama pada masyarakat modern diperkotaan, karena perempuan desa pun sekarang ini sudah memulai untuk mencari pekerjaan baik di desa maupun merantau ke kota. Maka tak heran pada zaman yang demokratis ini banyak perempuan yang berkarir diluar rumah. Mereka kini berani dan leluasa bekerja dibidang apapun. Karena mereka berpikir, sekarang adalah zaman yang bebas untuk melakukan apa saja. Karena mereka ingin setara dengan kaum pria.

Dewasa ini, ketika zaman sudah menjadi super demokratis, perempuan sudah menjadi daya tarik tersendiri. Perempuan kini makin dilirik oleh siapa saja. Selain pria, dibidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, bahkan di bidang politik, mereka sudah dilirik. Selain itu, perempuan pun sekarang sudah menjamah media, ini terbukti ketika media banyak sekali menayangkan perempuan khusunya berita. Bahkan perempuan pun ikut andil dalam pembuatan iklan. Banyak iklan yang menggunakan kaum perempuan untuk menarik perhatian para konsumtif. Mulai dari iklan deterjen, sabun mandi sampai iklan pakaian dll. Tak heran jika sekarang perempuan sudah mulai menyetarai status pria yang bisa bekerja dengan leluasa. Karena daya tarik dari sisi kaum perempuan ini, sudah bukan menjadi rahasia umum.

Tak dapat dipungkiri lagi, sekarang kaum perempuan sudah menjadi pasar potensial dalam media massa. Berita mengenai sisi perempuan dari segi manapun menarik untuk diberitakan, bahkan bisa meraup keuntungan untuk medianya. Dalam bidang media, perempuan ibarat sisi mata uang yang tak bisa di pisahkan, keduanya memiliki kaitan erat yang berjalin saling melengkapi.

Kaum perempuan pun banyak yang memanfaatkan jasa media massa untuk meningkatkan popularitasnya, sebaliknya media massa pun butuh sebuah “nuansa khas” dari seorang perempuan karena daya tariknya. yaitu  mulai dari sisi keberhasilan karir dan jabatannya, ketegarannya menyikapi sebuah persoalan besar, kenekadannya dalam melakukan sesuatu dan terakhir adalah keberaniannya untuk memperlihatkan auratnya. Setiap perempuan sebenarnya secara umum memiliki “rasa” yang sama dengan laki-laki yakni keinginan untuk terkenal, untuk mendapatkan banyak uang serta untuk menjadi terhormat.

Memang tidak mudah untuk bagi perempuan bekerja di media massa. Tantangan yang akan dihadapi sangatlah keras, ditambah lagi akan banyak kendala bila mereka tidak bisa mengelola waktu. Misalnya, jika kaum perempuan menjadi seorang wartawan, di dalam mencari berita, persaingan sangat ketat dan perlu usaha ekstra untuk bisa mendapatkan berita yang bagus serta layak untuk dimuat. Perlu juga perjuangan untuk bisa menulis tepat waktu dan tanpa mengenal batas waktu terutama pada saat dikejar deadline. Belum lagi lembur dan bahkan tidak pulang kantor dan masalah ini akan menimbulkan banyak masalah terutama bila pasangan atau keluarga di rumah tidak mengerti kondisi mereka.

Belum lagi yang menjadi seorang selebritis yang sering disorot dalam media, mereka tak akan lepas dari pemberitaan yang memang selalu menyoroti hal-hal negatif, seperti pemberitaan foto-foto fulgar, diterpa gosip, dan belum lagi dengan senang hati mereka akan membuka auratnya untuk menjadi daya dihadapan publik. Dalam iklan pun sama, mereka akan senang hati melakukan apa saja demi uang. Misalnya saja dalam iklan sabun mandi yang memperlihatkan sebagian anggota tubuh mereka. Mempertontonkan aurat perempuan karena alasan seni merupakan logika yang terasa dipaksakan, melainkan merupakan logika yang lebih banyak menikmati dunianya saja. Bukankah seni pada dasarnya berorientasi pada penciptaan keindahan sejati yang tidak didasarkan pada pikiran-pikiran murahan.

Teori feminisme pun menyatakan bahwa media massa diasumsikan sebagai alat utama untuk mendominasi dan menindas wanita, karena mereka tidak memfungsikan media massa sebagai media untuk pendidikan, tetapi lebih banyak pada orientasi bisnis semata. Kaum perempuan yang tidak bekerja di media pun sama hal nya dengan perempuan yang bekerja terlibat dengan media. Terbukti dalam banyak kasus diberita, mengenai perempuan menjadi berita yang banyak menyita perhatian. Misalnya, berita mengenai perkosaan, pencabulan, pelecehan dll, yang sempat menjadi headline berita di media massa. jika berita tersebut dikemas sesuai fakta tanpa mengandung unsur sensualitas, fulgar, memojokkan korbannya itu tidak masalah. Akan tetapi, terkadang media lebih mementingkan bagaimana berita tersebut dikemas menarik penonton, maupun pembacanya tanpa mempertimbangkan aspek sensitif gender pada berita yang disuguhkan.

Mau tidak mau begitulah kondisi media massa sekarang apalagi di Indonesia. Peremupan dan media sudah tak bisa dipisahkan lagi. Keduanya sudah menjadi pasangan serasi. Malah perempuan menjadi objek pertama yang dicari oleh media. Tak heran jika sekarang ini kita lebih sering melihat perempuan yang mewarnai media.

Terkait dengan hubungan media dan perempuan, media seakan-akan membentuk deskripsi sendiri mengenai konsep perempuan. Media membuat citra perempuan melalui sudut mereka yang dianggap komersil, entah mengacu pada realitanya atau karena mengacu pada pasar penonton ataupun pembaca. Contohnya pada tayangan sinetron. Perempuan selalu digambarkan mahluk yang lemah, korban dari ringan tangan lelaki, bodoh, tidak berani bersikap dan sebagainya. Semua serba dilebih-lebihkan. Dan seakan-akan masyarakat kita menyukai sesuatu yang berlebihan. Jarang sekali acara sinetron yang mengupas sisi perempuan dengan kenyataan yang ada.

Tayangan sinetron yang setiap hari ada dengan segala cerita dan penokohan yang penuh dramatisasi berlebihan dan kehidupan yang glamor tak biasa, iklan dikemas sedemikian rupa, hingga tidak masuk logika keterkaitan produk dengan deskripsi iklan yang disuguhkan. Justru esensinya tidak nyambung dengan produk yang ditawarkan sehingga menimbulkan deskripsi ambigu bagi penontonnya. Perempuan turut dijadikan alat penarik konsumen entah dari tampang, bentuk badan, suara mendesah dan sebagainya. Begitu pula penontonnya terutama perempuan menjadi objek potesial yang gampang dipengaruhi oleh berbagai produk iklan.

Kaum perempuan memang tidak akan pernah lepas dengan media massa saat ini, karena bagaimanapun mereka mempunyai daya tarik. Jika kita melihat dari masalah diatas, itu adalah sebagian masalah yang nanti akan diperoleh jika memang mereka mau seperti itu. Kita bisa melihat dari sisi lain hubungan kaum perempuan dan media yang dimana khususnya mereka bekerja dibidang tersebut. Misalnya bisa kita lihat, apapun dan bagaimanapun jurnalis perempuan, baik di media profit maupun di media non-profit, mereka adalah fenomena yang mengagumkan. Seperti dalam bidang apapun, para jurnalis perempuan selalu harus berjuang untuk dapat eksis dalam profesi mereka, baik secara struktur, isi maupun penampilan. Ada apa dengan jurnalis perempuan? Mereka sebagian besar adalah pembawa suara perubahan sosial menuju masyarakat yang berkeadilan gender.

Pemahaman sebagian orang tentang kaum perempuan seperti itu dengan media, sebagaimana telah dijelaskan diatas, itu hanya sedikit gambaran yang mungkin mereka harus berintropeksi diri. Karena bagaimanapun itu semua tergantung dari dirinya. Kalau memang mereka menginginkan derajat sama dengan kaum pria, itu memang tak mungkin. Karena bagaimanapun, derajat kaum pria lebih tinggi daripada kaum perempuan. Yang ada dengan mereka seperti itu, mereka bukan mendapatkan kehormatan, melainkan kemurahan.

Dengan demikian, dari masalah-masalah yang akan muncul, kaum perempuan yang bekerja dan berhubungan dengan media, haruslah siap dengan semua tantangan yang ada. Konsisten terhadap diri sendiri dan tidak mudah untuk terpengaruh karena ingin ketenaran, untuk demi uang semata dan untuk menyamakan status kaum pria. Apalagi jika sudah mempunyai pasangan dan keluarga, harus meninggalkan dan menelantarkannya.

Alternatif yang bisa dilakukan mereka demi mendapatkan status, ketenaran, dll yang berhubungan dengan media, salah satunya bisa dengan menjadi penulis lepas. Kenapa ? karena dengan menjadi penulis lepas, mereka tak perlu meninggalkan keluarga, tak perlu membuka aurat demi sebuah ketenaran dan menjadi daya tarik dll. Justru sangatlah mudah melakukannya, dan ketenaran pun bahkan uang akan didapat.
Kita bisa menulis kapan saja sesuka hati dan mengirimkannya ke media manapun dan uang pun didapat dengan hanya kita menulis saja tanpa membuka kehormatan kita. Karena bagaimanapun Perempuan adalah bukan sekedar wahana reproduksi untuk melahirkan. Tetapi mereka tiang tengah rumah sekaligus mereka dilahirkan untuk membuat kehidupan bernilai. Jika begitu, demi kemanusiaan lelaki cerdas pun akan setuju turut berjuang.

Dan untuk Industri media nya itu sendiri, seperti telivisi mestinya tidak hanya menjadi ikon hiburan yang banyak memikat minat penonton, dengan keuntungan media yang banyak, lebih dari itu peran edukasi media telivisi harus lebih dikedepannkan. Sekalipun menayangkan sinetron hiburan, harus lebih banyak edukasinya ketimbang adegan yang hanya hura-hura tanpa makna kehidupan yang mendidik bagi perempaun. Apalagi tayangan telivisi sampai mendiskriminasi perempuan dan membentuk stereotipe perempuan yang tidak baik. Tentu hal tersebut sangat mengancam masa depan perempuan Indonesia. Jadilah media yang menayangkan sesuai dengan kode etik.
Baca SelengkapnyaFenomena Perempuan dan Media

Thursday, 30 May 2013

Ketika Kursi DPR dibeli dengan Harga Permen

Indonesia sudah tak seperti dahulu lagi. Kekayaan alam, kesejahteraan, hukum dan sistem pemerintahan tak sebaik dahulu, ketika hukum, peraturan dan sistem pemerintahan masih tertata dengan baik. Tapi sekarang untuk masalah sistem pemilihan caleg pun sudah amburadul dan tidak sesuai dengan keinginan rakyatnya. Kursi DPR pun sangat lah mudah untuk didapat dengan hanya syarat mendapatkan suara terbanyak, tanpa mementingkan kualitas caleg yang tidak didukung oleh  keilmuannya.

Ibaratnya jangankan dosen, tukang becak pun bisa mencalonkan diri sebagai caleg di negeri ini dan hebatnya lagi keluarga Nazaruddin pun masuk dalam daftar caleg PD. Dimana telah dijelaskan oleh Ketua Harian DPP PD Syarief Hasan (detik.com). Dan tak ketinggalan para selebritis pun ikut meramaikan untuk merebut kursi DPR. Seperti sebuah iklan, apapun jabatannya, pekerjaannya, pendidikannya adalah yang terpenting adalah tetap suara terbanyak. Mau dibawa kemanakah negeri tercinta ini ?

Sangatlah mudah bukan untuk menjadi anggota legisatif ? Mudah disini adalah bagaimana sistem perekrutan yang dilakukan oleh para partai dengan tidak mementingkan kualitas, melainkan ketenaran dan kekuasaan dan yang terpenting adalah suara terbanyak. Tak heran jika yang meduduki kursi DPR sekarang ini adalah orang-orang yang berkuasa dan masih dipertanyakan kualitasnya.

Memang butuh banyak uang untuk merebut kursi DPR, tapi nyatanya tak sebanding dengan apa yang mereka dapatkan. Penghasilan yang mereka dapat tak sebanding dengan uang yang telah dikeluarkan untuk kampanye dll. Belum lagi biaya kongkalikong dengan rakyat agar mereka dipilih.

Calon legislatif adalah orang yang berdasarkan pertimbangan, aspirasi, kemampuan atau dukungan masyarakat, yang dinyatakan telah memenuhi syarat oleh peraturan diajukan partai untuk menjadi anggota legislatif (DPR/DPRD) dengan mengikuti pemilihan umum dan ditetapkan KPU sebagai caleg tetap.

Tahun ini adalah tahun yang penuh perjuangan untuk para kandidat caleg, waktu 24 jam digunakan untuk berpikir, berdiskusi, berkunjung kesana-kemari dengan tujuan untuk mensosialisasikan program-program yang akan ditawarkan dalam kampanye nanti, dan tidak ketinggalan visi-misi yang belum jelas juga akan disosialisasikan.

Dengan perhitungan yang cermat, para caleg ini sangat yakin akan mendapat suara untuk melawan para pesaingnya. Para caleg ini segera mengikuti tender yang akan memperebutkan suara rakyat, dengan pemaparan program-progam yang akan dilakukan bila suatu saat jadi pemenang. Tak ketinggalan emosi masa pendukung sangat mempengaruhi orasi caleg, kadang kala dengan orasi tanpa teks, sering membuat isi pidato menjadi bias, dan kadang lupa apa yang telah di ucapkannya. Jika dibandingkan tak beda jauh dengan pedagang obat di pinggir pasar.

Gambaran ini merupakan kegiatan  para caleg yang sibuk untuk mengejar target suara dan popularitas di masyarakat, karena syarat utama untuk menjadi anggota legislatif adalah suara terbanyak yang bisa direkrut.
Para selebritis yang ikut meramaikan kursi DPR ini pun tak ketinggalan dalam mensosialisasikan visi-misinya kepada rakyat khususnya para fansnya. Berbagai selebritis dengan latar belakang berbeda yaitu sebagai penyanyi, bintang film, pemain sinetron, dan bintang iklan yang kini menumpuk di berkas KPU.

Banyaknya nama selebritis ini bukan lah hal semata-mata ingin berpartisipasi dalam merebut kusri DPR melainkan tentunya menjadi strategi jitu partai politik untuk berkompetisi dengan partai politik lainnya. Partai politik berlomba-lomba untuk merekrut para selebritis dengan tujuan dikenal oleh rakyatnya seperti yang pernah terjadi pada tahun 2009 lalu tanpa mereka sadari dampak kedepannya. 

Nama selebritis yang muncul dalam Pemilu 2014 juga diisi dengan nama-nama yang sebelumnya sudah berpolitik dan duduk di parlemen seperti Tantowi Yahya, Nurul Arifin, Dedi “Miing” Gumelar, Rieke Dyah Pitaloka, Venna Melinda, Jamal Mirdad, dan Rachel Maryam. Dan belasan selebritis lain pun ikut meramaikan yang telah terdaftar sebagai Daftar Calon Sementara (DCS), diantaranya adalah Partai Kebangkitan Bangsa Ridho Rhoma, Arzatti Bilbina Said (Bajaj Bajuri), Mandala Shoki, Iyeth Bustami, Akri Patrio. Untuk Partai Persatuan Pembangunan Angel Lelga, Okky Asokawati, Mat Solar. Partai Amanat Nasional Primus Yustisio, Eko (Patrio) Hendro Purnomo, Ikang Fauzi Dwiki Dharmawan, Desy Ratnasari, Anang Hermansyah, Jeremy Thomas, Ayu Azhari, Gading Martin, dan Yayuk Basuki. Dengan ketenaran yang mereka punya, akankah para selebritis ini bisa mendengar aspirasi rakyatnya? Karna bagaimanapun aspirasi rakyat ingin didengar dan adanya perubahan yang lebih baik kedepannya.

Ketika para kandidat dari kalangan selebritis dan partai politik sibuk dengan mempersiapkan segala sesuatunya untuk mendapatkan suara terbanyak, kadang kala mereka tak pernah mempertimbangkan apa yang terjadi ketika mereka gagal. Fisik boleh kuat, tapi mental juga haruslah diperhatikan. Keimanan perlu mereka perhatikan ketika mereka sedang bertarung memperebutkan kursi DPR, karena jika mereka gagal, mereka tidak akan cemas dan jatuh sakit akibat stress apalagi sampai bunuh diri.

Bagi mereka yang tidak kuat mental, ketika mereka gagal banyak sekali jiwanya yang terguncang. Kadang kala mereka menjadi stress tak menentu hingga bunuh diri. Mereka akan merasakan itu ketika mereka gagal karena mereka dirasuki berbagai perasaan, seperti malu, kegagalan yang terus mendera, bahkan utang sana-sini karena banyak menghabiskan biaya.

Jika dilihat dari masalah ini, untuk mengisi kekuasaan di lembaga legislatif sangatlah diperlukan orang-orang terpilih yang mewakili rakyat di suatu daerah. Bukan hanya modal ketenaran dan kekuasaan yang menjadi tolak ukur untuk menjadi seorang anggota legislatif tetapi yang terpenting adalah mempunyai kualitas, karena bagaimanapun rakyat menginginkan kesejahteraan dan yang terpenting sistem pemerintahan berjalan dengan baik.


Jika caleg telah mendapat dukungan, dan duduk  menjadi anggota Legislatif, sesungguhnya belum disebut sebagai pemenang, tetapi baru masuk kelingkaran setan yang penuh godaan. Jika caleg telah mampu memilah, menolak dan mengindari godaan itu maka barulah dikatakan sebagai pemenang yang mapu mengelola kemenangan itu. Karena bagaimanapun jika telah mampu menolak semua godaan tersebut, akan terhindar dari yang namanya korupsi dan negara akan tertata dengan baik, rakyat senang dan sejahtera.
Baca SelengkapnyaKetika Kursi DPR dibeli dengan Harga Permen

Monday, 20 May 2013

Ketika Twitter Dilirik oleh Petinggi Negara


Jejaring sosial adalah slah satu media yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain dimana berinteraksi dengan orang yang sudah dikenal maupun orang yang belum pernah kenal sebelumnya, atau bahkan bisa mempublikasikan informasi kepada semua orang. penggunaannya sangatlah mudah dan digunakan oleh banyak orang tentunya.

Ya, Jejaring Sosial yang semakin meningkat penggunaannya dewasa ini bersamaan dengan tumbuhnya pemakaian internet baik di dunia maupun di Indonesia. Dimana dapat membawa dampak positif bagi orang-orang yang pandai memanfaatkannya. Jejaring sosial sudah lama adanya dan menjadi trend di jaman yang serba canggih ini, apalagi untuk para remaja. Seperti frendster sebelumnya, kemudian muncul Facebook dan twitter yang masih ada sampai saat ini.

Penggunaan jejaring sosial ini bukan hanya dari kalangan remaja dan artis saja, sekarang ini bisa kita lihat petinggi negara pun sudah memanfaatkan jejaring sosial seperti twitter. Petinggi Negara yang telah memanfaatkan twitter ini salah satunya SBY yang telah diresmikan pada Sabtu 13 April 2013 lalu, akun tersebut bernama @SBYudhoyono. Akun tersebut pun langsung di-follow ratusan ribu pengguna mikroblogging 140 karakter tersebut. Bukan hanya SBY saja, akun jejaring sosial yang satu ini telah dilirik oleh Mantan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Cilacap, Tri Dianto yang menuturkan akan mengikuti langkah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk membuat twitter (Sindonews.com).

Baik diakui ataupun tidak bahwa pengaruh jejaring sosial di dunia maya memang telah banyak mewabah ke semua aspek kehidupan pribadi manusia di belahan dunia ini. Contoh lain yang mendapatkan manfaat jejaring sosial twitter dan juga facebook adalah presiden Amerika Serikat yaitu Presiden Barack Obama yang bisa disebut pemimpin pertama dunia yang dipopulerkan dan bahkan diubah nasibnya berkat peran facebook.

Twitter memang sudah banyak diminati oleh semua kalangan, tak heran jika salah satu Petinggi Negara memanfaatkan akun jejaring sosial tersebut. Karena twitter merupakan salah satu layanan jejaring sosial yaitu sebuah layanan microblogging yang sedang booming saat ini dengan jutaan pengguna. Dengan salah satu akun jejaring sosial ini orang dapat mengikuti perkembangan dunia dari layar komputer bahkan ponsel. Salah satunya bisa menyeleksi informasi siapa saja yang kita butuhkan dengan mudah dan cepat.

Kita bisa lihat ketika profile seseorang memiliki jumlah follower yang banyak, tentunya banyak orang yang tertarik pada informasi yang telah di share-nya dan merasa penting untuk selalu mengikuti perkembangan informasi yang diberikan. Artinya informasi yang kita berikan banyak yang membaca. Hal ini biasa terjadi pada PublicFigur seperti selebritis dan  petinggi negara atau orang-orang ternama, atau bahkan juga beberapa media cetak, elektronik, televisi dan media online yang selalu mengupdate headline beritanya di twitter, mereka bisa mempublikasikan informasi yang di butuhkan pelanggan, anggotanya sampai orang lain melalui twitter karena dianggap lebih mudah dan praktis.

Twitter ini adalah media yang sangat menjadi salah satu jurus jitu bagi orang-orang ternama khususnya petinggi negara untuk dekat dengan rakyatnya. Seperti halnya akun twitter SBY, dengan tujuan berharap bisa berkomunikasi langsung dengan masyarakat. Selain itu masyarakat juga bisa langsung menyampaikan keluhannya agar mendapatkan respon secepatnya. Tak heran kicauan SBY di Twitterland pun langsung mendapat sambutan dari para warga twitter. Ada yang memuji langkah SBY, hingga mendapat banyak komentar dari berbagai pihak. Misalnya saja menurut Tri Dianto, langkah SBY membuat akun twitter sebagai langkah yang bagus dan mendukung langkah tersebut.

Dengan SBY membuat akun twitter pribadinya, banyak juga yang bertanya-tanya, mengapa SBY membuat akun jejaring sosial ketika diakhir masa kepemimpinannya. Jika ingin dekat dan bisa berkomunikasi langsung dengan rakyat, mengapa tidak dari awal masa kepemimpinannya? Dan jika ingin mendengar aspirasi dan keluhan rakyat secara langsung, SBY harus mau mem-follow kembali rakyatya. Jika tidak, mana bisa SBY mendengar keluhan rakyatnya secra langsung.

Dilihat dari masalah ini, jika petinggi negara ingin mengikuti jejak SBY untuk membuat akun twitter, alangkah baiknya jika membuatnya diawal masa jabatannya. Karena bagaimanapun rakyat akan tetap menyanjung pemerintah dengan baik. Dan tentu harus mem-follow kembali jika ingin benar-benar mendengar keluhan dan aspirasi rakyatnya. Untuk itu berpijak dari realitas ini, peluncuran twitter SBY diharapkan akan bisa menjadi pembantu Presiden dalam membaca, memahami dan menerapkan prinsip keterbukaan informasi komunikasi pada era digital sekarang ini.
Baca SelengkapnyaKetika Twitter Dilirik oleh Petinggi Negara

Ketika Tarian Tradisional Mulai Tertutupi dengan Tarian Modern

Indonesia memiliki ragam kebudayaan, hasil alam yang begitu melimpah. Begitu juga dengan hasil cipta karya manusia dimana salah satunya adalah tarian tradisional yang sudah ada sejak zaman Nenek Moyang. Namun dari waktu kewaktu, tarian tradisional sudah mulai tertutupi oleh adanya tarian modern mekipun tidak semua, tarian tradisional kini sudah tidak dilirik lagi, bahkan Anak-anak hingga kaum muda kini sudah lebih mengenal tarian modern daripada tarian tradisional.

Bisa kita lihat ketika zaman sudah beralih ke masa modern, kita telah disuguhkan berbagai macam tarian modern yang belum tentu tahu asal-mulanya. Salah satu yang sedang nge tren tahun 2012 silam, telah diramaikan oleh tarian Gangnam Style yang telah mendunia. Tarian asal Korea Selatan ini telah membuat orang terhipnotis akan tarian tersebut. Tarian ini banyak digemari oleh anak-anak, muda, hingga tua. Kemudian awal 2013 diramaikan oleh tarian Harlem Shake yang menjadi tren bagi kaum muda sekarang.

Dengan adanya tarian Tarian fenomenal ini, telah terjadi kasus dimana sang pustakawan dituding terlibat dalam pembuatan video tarian tersebut yang dilakukan mahasiswa di perpustakaan  menjelang tengah malam. Dalam video yang telah diunggah ke situs YouTube itu tampak terlihat 30 orang mahasiswa melakukan tarian fenomenal ini yang berlangsung di Perpustakaan St Hilda. Dan pustakawan itu dipecat (detikNews).

Harlem Shake adalah sebuah tarian yang cukup populer pada tahun 80an di sebuah kawasan yang bernama Harlem di NewYork dimana sering digunakan dalam video musik. Harlem Shake pada awalnya disebut albee yang dimana diperkenalkan oleh penduduk Harlem bernama "Al B". Setelah itu kemudian dikenal sebagai goyang Harlem. Tarian ini menjadi arus utama pada tahun 2001 ketika G. Dep menampilkan goyang Harlem dalam video musiknya "Let's Get It"( Wikipedia).

Jika tarian Gangnam Style gerakannya seperti coboy dan terlalu sulit untuk dilakukan, Harlem Shake bisa dibilang tarian yang sangat mudah dilakukan. Kita hanya perlu menggoyangkan bahu, pinggang, tangan ataupun seluruh tubuh secara bebas. Tentunya orang-orang mudah untuk memperagakan tarian tersebut. Tarian yang dimulai oleh satu orang kemudian diikuti oleh orang-orang sekitarnya, kebanyakan dari para pelakunya tidak sungkan mempertontonkan aurat mereka sambil menikmati dance dan musiknya.

Miris, ketika melihat pelajar atau bahkan mahasiswa yang melakukan tarian ini. Mereka adalah generasi penerus yang seharusnya bisa memfilter budaya yang masuk ke dalam budaya kita, bukan malah menikmati tarian tersebut bahkan hingga membuat video dan menguggahnya ke jejaring sosial dan mungkin mereka tidak tahu asal usul adanya tarian tersebut.

Jika kita telaah dari segi sejarah, tentu tarian tersebut sangat tidak sesuai dengan falsafah negara kita yaitu pancasila dan moralitas bangsa kita. Jika dilihat  dari segi agama pun tarian fenomenal ini tidak memiliki esensi apapun, bahkan hanya bersifat hura-hura dan parahnya lagi mengandung gerakan-gerakan yang mengandung unsur pornoaksi yang bisa menimbulkan syahwat yang seharusnya bisa lebih dicermati oleh seluruh lapisan generasi bangsa ini khususnya kaum muslim.
Dengan adanya tarian modern sekarang ini, jika kita tidak bisa memfilternya terlebih dahulu, lama-lama tarian tradisional dan budaya bangsa kita akan semakin tertutupi bahkan bisa saja punah.

Sudah saatnya kita khususnya pelajar dan mahasiswa, harus bisa memfilter apa yang masuk dari luar artinya kita harus bisa memilih dan menyaring mana yang lebih baik dan positif untuk kita ikuti. Bukan sekedar ingin mengikuti tren yang sudah ada tanpa memfilter terlebih dahulu. Sudah saatnya kita kembangkan dan lestarikan kembali tarian tradisional yang sudah mulai tertutupi oleh tarian modern, karena bagaimanapun itu adalah hasil cipta karya bangsa kita.
Baca SelengkapnyaKetika Tarian Tradisional Mulai Tertutupi dengan Tarian Modern